Jakarta, mataberita.net — Hari Raya Idul Fitri bukan hanya momen spiritual dan sosial setelah bulan Ramadan, tetapi juga punya dampak penting bagi kesehatan baik fisik maupun mental. Ini pula menjadi titik penting untuk mengembalikan dan menyeimbangkan pola makan agar tubuh kembali pada kondisi pemenuhan gizi yang optimal setelah berpuasa. Pasalnya tubuh dan pikiran mengalami perubahan yang bisa membawa manfaat jika dijaga dengan baik. Ramadan telah mengajarkan tentang kedisiplinan, empati dan rasa syukur atas setiap butir keberkahan yang diterima. Idul Fitri menjadi pengingat bagi semuanya untuk terus menjaga kesehatan masyarakat Indonesia.
Inilah yang disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Ir. Dadan Hindayana. “Setelah satu bulan kita menunaikan ibadah puasa, kini tiba saatnya kita merayakan hari kemenangan. Hari dimana seluruh kaum muslimin yang menunaikan ibadah Ramadan kembali kepada fitrahnya. Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Ramadan telah mengajarkan kita tentang kedisiplinan, empati dan rasa syukur atas setiap butir keberkahan yang kita terima. Idul Fitri bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan spiritual, namun awal dari semangat baru untuk terus menebar manfaat bagi sesama,” terangnya.
KLIK JUGA : 3 Faktor Utama Jadi Kunci Sukses Program MBG, Begini Kata Kepala BGN Dadan Hindayana!
“Di hari yang suci ini, mari kita pererat tali silaturahmi dengan penuh rasa syukur. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga kesehatan, memastikan pemenuhan gizi yang optimal bagi seluruh masyarakat Indonesia. Karena investasi gizi hari ini adalah kunci utama untuk mewujudkan generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing di masa depan. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga kebahagiaan, kedamaian dan keberkahan selalu menyertai kita semua,” lanjut Kepala BGN.

Sebagai informasi, Idul Fitri bisa menjadi momen ‘reset’ kesehatan setelah Ramadan. Mental lebih tenang karena saling memaafkan. Fisik kembali seimbang jika pola makan dijaga. Hubungan sosial yang hangat mendukung kesejahteraan secara keseluruhan. Ini tentu akan berpengaruh pada pemenuhan gizi optimal. Pemenuhan gizi optimal saat Idul Fitri bukan soal ‘tidak makan enak’, tetapi mengelola pola makan secara bijak dan seimbang. Pola makan seimbang dan bijak dalam pemenuhan gizi optimal adalah cara mengatur jenis, jumlah, dan cara konsumsi makanan agar tubuh mendapatkan semua zat gizi yang dibutuhkan tanpa berlebihan dan tanpa kekurangan.
Dalam menyantap makanan dan minuman pun tidak melupakan bersih, hieginis dan layak konsumsi. Sebab pola makan seimbang dan bijak dapat bermanfaat untuk menjaga berat badan ideal, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit seperti Diabetes dan Obesitas serta menjaga energi dan fokus sepanjang hari. Ini dapat berdampak menuju perwujudan generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing di masa depan. Seperti Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al A’raf ayat 31. “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan …”

Hal tersebut dikarenakan pola makan seimbang dan bijak untuk pemenuhan gizi optimal dalam membentuk generasi unggul Indonesia bukan sekadar soal makan sehat, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) baik dari sisi kecerdasan, kesehatan, maupun produktivitas. Generasi masa depan membutuhkan pertumbuhan fisik optimal, perkembangan otak maksimal dan daya tahan tubuh kuat. Tanpa gizi yang baik, risiko seperti Stunting dapat terjadi, yang berdampak pada tinggi badan tidak optimal, kemampuan belajar menurun dan produktivitas rendah saat dewasa.




