Home Daerah Nasional Internasional Ekonomi Infografis Sastra Science Olahraga Otomotif Teknologi Mataberita TV
Info Terkini : PT. Mata Digital Internasional, www.mataberita.net, independent dalam berita | PT. Mata Digital Internasional melalui website www.mataberita.net melayani Jasa Produksi dan Penayangan Film, Company Profile, Dokumenter, Talkshow, Monolog dan TVC | Selain itu juga melayani Management Artis, Penyanyi, Chef, Aktor, Aktris, Band dan lainnya | Kami juga melayani Konsultasi Hukum, Manajemen, Broadcasting dan lainnya | Ditambah pula melayani Pelatihan Berbagai Bahasa diantaranya Inggris, Indonesia, Jerman, Korea, Jepang, Mandarin, Arab dan sebagainya | Tak ketinggalan pun melayani Pelatihan atau Diklat Jurnalistik, Bahasa, Broadcasting, Public Speaking, Design, Desain Grafis, Editing, IT, Hukum dan sebagainya | Nah... Kami juga menjual berbagai produk makanan dan minuman seperti Pempek Palembang, Kue Semprong, Thai Tea, Green Tea, Espresso, Cappucino, Americano dan masih banyak lagi | Yang suka berbusana Batik khas Pekalongan juga bisa memesan ke Kami yaaa... | Alami kendala Kompor Gasnya juga bisa dilayani oleh Kami | So kunjungi terus website kami di www.mataberita.net | Upz sampai lupa deh, hubungi Kami bisa ke (021) 89229850 atau bisa datang ke Jl. Kav. H. Umar II no 319, Teluk Pucung, Bekasi Utara, Kota Bekasi yaaa...| Kami juga melayani by seluler WhatsApp dengan menugaskan PIC Ayu Yulia Yang di 08567971900 | Percayakan Kami sebagai Mitra, Partner dan Relasi Anda...

Shireen Sungkar hingga Cucu Pencipta Lagu ‘Negaraku’ Nindy Chaniago Bahri Angkat Bicara, Ada Apa dengan Perseteruan Indonesia-Malaysia?

Foto : Shireen Sungkar hingga Cucu Pencipta Lagu 'Negaraku' Nindy Chaniago Bahri Angkat Bicara, Ada Apa dengan Perseteruan Indonesia-Malaysia?

Jakarta, mataberita.net — Shireen Sungkar, istri dari Teuku Wisnu hingga Cucu Pencipta Lagu Kebangsaan Malaysia ‘Negaraku’, Nindy Chaniago Bahri, angkat bicara. Ada apa dengan perseteruan Indonesia – Malaysia? Perseteruan warganet Indonesia dan Malaysia di media sosial kian melebar. Berawal dari rivalitas sepak bola, perdebatan kini merambah sindiran soal pekerjaan, pariwisata, seruan boikot, hingga identitas budaya dan sejarah lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku.

Di tengah riuhnya saling balas komentar, nama Shireen Sungkar ikut menjadi sorotan setelah menanggapi unggahan akun Threads yang disebut berasal dari seorang Makeup Artist (MUA) di Penang, Malaysia. Alih-alih membalas dengan hinaan, istri Teuku Wisnu itu justru menyinggung kontribusi wisatawan Indonesia terhadap sektor pariwisata Malaysia. Kontroversi bermula ketika akun tersebut membandingkan tujuan warga Indonesia yang datang ke Malaysia dengan warga

Malaysia yang berkunjung ke Indonesia. “Indonesian masuk ke Malaysia cari kerja. Malaysian ke Indonesia liburan. Beda kelasssssss,” tulis akun tersebut. Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dari Shireen. Dia membantah anggapan. Warga Indonesia yang berkunjung ke Malaysia semata-mata bertujuan mencari pekerjaan. “Kita ke Malaysia shopping, gak semua cari kerja hehe,” tulis Shireen.

Istri Teuku Wisnu juga menyebut angka kunjungan yang diklaimnya mencapai 4,6 juta wisatawan Indonesia yang berlibur dan berbelanja di Malaysia pada 2026. Sebaliknya, sekitar dua juta warga Malaysia disebutnya berwisata ke Indonesia. Angka tersebut merupakan informasi yang disampaikan Shireen dalam komentarnya dan masih memerlukan verifikasi melalui data resmi pariwisata kedua negara.

Menariknya, Shireen tidak menutup tanggapannya dengan sindiran. Dia justru mengingatkan bahwa kunjungan wisatawan dari kedua negara sama-sama membawa manfaat ekonomi. “Alhamdulillah Allah kasi juga rezeki ke kami. Makasih udah liburan ke Indonesia,” tulisnya. Dia kemudian menyampaikan harapan agar hubungan masyarakat kedua negara tetap terjaga. “May Allah bless both Indonesia and Malaysia,” pungkasnya.

Dari rivalitas sepak bola ke seruan boikot. Perseteruan di media sosial tidak berhenti pada perdebatan mengenai pekerjaan dan pariwisata. Rivalitas sepak bola kedua negara turut menjadi pemantik munculnya komentar-komentar bernada sindiran yang kemudian berkembang menjadi seruan boikot. Sejumlah warganet Malaysia mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak meremehkan daya tekan konsumen Malaysia.

Sejumlah warganet itu pun menyinggung sejumlah merek besar yang, menurut mereka, pernah terdampak aksi boikot. Sebaliknya, sebagian warganet Indonesia membalas dengan mengangkat persoalan klaim budaya dan keterkaitan ekonomi kedua negara. Sindiran yang beredar bahkan meluas dari produk komersial ke berbagai sektor, mulai dari batu bara, listrik, beras, minyak sawit, perdagangan, hingga tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Daftar itu kemudian merambah kebudayaan, termasuk reog, wayang, batik, keris, rendang, rempah-rempah, gamelan, angklung, musik, film, serta bahasa Melayu. Lagu kebangsaan Malaysia dan lagu-lagu patriotiknya pun ikut disebut dalam perdebatan tersebut. Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana rivalitas olahraga dapat meluas menjadi persoalan identitas nasional ketika percakapan di media sosial kehilangan batas antara kritik, humor, dan penghinaan.

Namun, klaim mengenai asal-usul budaya maupun kepemilikan suatu tradisi perlu ditempatkan secara proporsional. Kebudayaan di kawasan Nusantara tumbuh melalui proses sejarah yang panjang, dengan pertukaran bahasa, seni, perdagangan, dan migrasi yang melintasi batas negara modern. Cucu Saiful Bahri pun buka suara soal Lagu ‘Negaraku’. Di tengah perdebatan mengenai lagu kebangsaan Malaysia, seorang cucu Saiful Bahri yaitu Nindy Chaniago Bahri turut menyampaikan pandangannya.

Saiful Bahri dikenal sebagai musisi kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, yang namanya dikaitkan dengan sejarah penciptaan atau penggubahan lagu kebangsaan ‘Negaraku’. Dalam keterangan Nindy, dia menceritakan. Kakeknya mengikuti sayembara resmi yang diadakan menjelang kemerdekaan Malaya pada tahun 1957 dan dipimpin langsung oleh Perdana Menteri pertama Malaysia, Tunku Abdul Rahman.

“Memang atas undangan Tunku Abdul Rahman, Saiful Bahri memenangkan sayembara tersebut dan menerima hadiah sebesar 1.000 ringgit pada masa itu,” terang Nindy. Dia juga menyampaikan. Kisah tersebut tercatat dalam sejumlah pemberitaan dan sumber sejarah. Meski demikian, rincian mengenai peran Saiful Bahri dalam penciptaan Negaraku perlu ditelusuri melalui dokumen sejarah dan sumber resmi Malaysia.

“Sejarah lagu kebangsaan merupakan persoalan yang memiliki konteks tersendiri dan tidak semestinya disederhanakan menjadi bahan saling ejek di media sosial,” sambung Cucu Saiful Bahri. Baginya, mengganti lagu kebangsaan bukan perkara sederhana. Lagu kebangsaan, menurutnya, merupakan bagian dari identitas suatu negara yang penggunaannya dan kemungkinan perubahannya berkaitan dengan ketentuan hukum masing-masing negara.

Foto : Shireen Sungkar hingga Cucu Pencipta Lagu ‘Negaraku’ Nindy Chaniago Bahri Angkat Bicara, Ada Apa dengan Perseteruan Indonesia-Malaysia?

Nindy pun menyayangkan perseteruan yang berkembang dari rivalitas sepak bola menjadi serangan personal, termasuk penyuntingan foto yang dinilainya telah melampaui batas kewajaran. Dia pun turut menyinggung gambar uang rupiah yang diedit menyerupai monyet dan balasan berupa foto mendiang istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang diedit dengan wajah babi.

Anak dari Aden Bahri menilai tindakan semacam itu tidak lagi sekadar menunjukkan rivalitas antarsuporter, melainkan telah menyasar martabat individu dan keluarga. “Sudahlah, berhentilah meledek, mengejek, menyerang satu sama lain. Ini sudah berlebihan,” demikian pesan yang disampaikannya. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia dan Malaysia punya ikatan sejarah panjang.

Di balik perdebatan yang memanas, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki keterkaitan historis, bahasa, budaya, perdagangan, dan mobilitas masyarakat yang telah berlangsung jauh sebelum batas negara modern terbentuk. Bahasa Melayu, misalnya, berkembang melalui sejarah panjang di berbagai wilayah Asia Tenggara dan menjadi salah satu fondasi penting bahasa Indonesia maupun bahasa kebangsaan Malaysia.

Sementara itu, seni, kuliner, musik, dan tradisi masyarakat di kawasan ini juga memperlihatkan hubungan yang tidak selalu dapat dipisahkan secara tegas berdasarkan batas geografis saat ini. Kedekatan tersebut semestinya menjadi alasan untuk memahami perbedaan secara lebih dewasa, bukan memperpanjang perselisihan mengenai siapa yang lebih unggul atau siapa yang berhak mengklaim suatu kebudayaan.

Rivalitas dalam olahraga merupakan hal yang lumrah. Dukungan terhadap tim nasional juga merupakan bagian dari kebanggaan masyarakat. Namun, keduanya tidak seharusnya menjadi pembenaran bagi penghinaan terhadap warga negara lain, apalagi terhadap keluarga seseorang yang tidak terlibat langsung dalam pertandingan. Ini menandakan ketika Media Sosial menguji kedewasaan bertetangga.

Kasus ini memperlihatkan dua respons yang berbeda terhadap provokasi. Shireen Sungkar memilih membalas sindiran mengenai wisatawan dengan menunjukkan sisi ekonomi dan menutup komentarnya melalui doa untuk kedua negara. Sementara itu, cucu Saiful Bahri mengingatkan bahwa perdebatan yang semula berawal dari sepak bola telah berkembang terlalu jauh, hingga menyentuh simbol nasional dan kehormatan pribadi.

Keduanya menyoroti persoalan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik : hubungan Indonesia dan Malaysia tidak seharusnya ditentukan oleh pertukaran hinaan di media sosial. Pada akhirnya, kunjungan wisatawan, perdagangan, tenaga kerja, dan hubungan budaya merupakan bagian dari interaksi masyarakat kedua negara yang memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Persoalan-persoalan tersebut layak dibahas dengan data dan argumentasi, bukan semata-mata dengan sentimen nasionalisme sesaat. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling keras membalas sindiran, melainkan apakah masyarakat kedua negara mampu menjaga persaingan tetap berada dalam batas yang sehat.

Sebab, ketika sepak bola berakhir dan percakapan di media sosial berganti topik, Indonesia dan Malaysia tetap bertetangga—dengan sejarah panjang, kepentingan yang saling berkaitan, dan masa depan kawasan yang tidak dibangun melalui permusuhan.

Leave a Reply